KPU Magelang Segera Gelar 2nd Batch NGREMBAKA di SMK Muhammadiyah 1 Bandongan
KOTA MUNGKID_KPU Kabupaten Magelang berkoordinasi dengan SMK Muhammadiyah 1 Bandongan terkait rencana 2nd Batch NGREMBAKA (Ngerekam Lan Edukasi Mbangun Kesadaran Administrasi Pemilih Kanggo Kanca Sekolah). Program sinergi KPU dan Disdukcapil Kabupaten Magelang yang memadukan perekaman E-KTP dan Pendidikan Pemilih ini sengaja menyasar pelajar dibangku sekolah menengah atas/kejuruan di Kabupaten Magelang, untuk memperkuat kesadaran administrasi kependudukan dan kepemiluan di kalangan pelajar, khususnya pemilih pemula. Tim koordinasi KPU Kabupaten Magelang dipimpin Ketua KPU Ahmad Rofiq, didampingi Ketua Divisi Perencanaan, Data dan Informasi Siti Nurhayati bertemu Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Muhammadiyah 1 Bandongan, Zuni Kopsatul, Rabu (10/6/2026). Koordinasi membahas aspek teknis pelaksanaan 2nd Batch NGREMBAKA, mulai dari penentuan peserta, penyusunan agenda kegiatan, dukungan sarana dan prasarana, hingga strategi edukasi yang akan diberikan kepada siswa. Dalam pertemuan itu Ahmad Rofiq menyampaikan sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang sadar akan pentingnya administrasi kependudukan dan hak pilih. Melalui NGREMBAKA, KPU ingin memastikan para pelajar memahami bahwa dokumen kependudukan yang lengkap dan akurat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan data pemilih yang berkualitas. "Pemilih pemula merupakan bagian penting dari masa depan demokrasi. Melalui NGREMBAKA, kami ingin memberikan pemahaman bahwa kepemilikan dokumen kependudukan, khususnya KTP elektronik saat memasuki usia 17 tahun, memiliki keterkaitan langsung dengan pemenuhan hak konstitusional sebagai pemilih. Karena itu, sinergi dengan sekolah menjadi sangat penting agar edukasi ini dapat menjangkau lebih banyak generasi muda," ujar Ahmad Rofiq. Ketua Divisi Perencanaan, Data dan Informasi KPU Kabupaten Magelang, Siti Nurhayati, turut menjelaskan NGREMBAKA dirancang sebagai media edukasi yang dekat dengan dunia pelajar melalui pendekatan yang interaktif dan komunikatif. Menurutnya, kesadaran administrasi kependudukan di kalangan generasi muda akan berdampak positif terhadap kualitas data pemilih berkelanjutan. "Melalui NGREMBAKA, kami ingin membangun pemahaman bahwa data kependudukan yang akurat tidak hanya penting untuk pelayanan publik, tetapi juga menjadi dasar dalam penyusunan data pemilih yang berkualitas. Dengan melibatkan sekolah, kami berharap siswa dapat menjadi agen informasi yang turut mengingatkan keluarga dan lingkungan sekitarnya tentang pentingnya tertib administrasi kependudukan," jelasnya Zuni Kopsatul, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Muhammadiyah 1 Bandongan, menyambut baik rencana pelaksanaan 2nd Batch NGREMBAKA di sekolahnya. Ia menilai kegiatan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan peserta didik yang sebagian besar akan segera memasuki usia pemilih. "Kami mengapresiasi inisiatif KPU Kabupaten Magelang yang hadir langsung ke sekolah untuk memberikan edukasi kepada siswa. Program ini tidak hanya memberikan pemahaman tentang kepemiluan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran pentingnya administrasi kependudukan sejak dini. Kami siap mendukung pelaksanaan NGREMBAKA agar dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi para siswa," ungkap dia.(***/RED) ....
Dorong Sinergi Dengan Pemdes Wujudkan Data Pemilih Akurat Mutakhir Berkualitas, KPU Magelang Sosialisasikan PDPB
MERTOYUDAN_Mendorong penguatan sinergi KPU Kabupaten Magelang dengan pemerintah desa/kelurahan di Kecamatan Mertoyudan untuk mewujudkan data pemilih yang akurat, mutakhir, dan berkualitas, Selasa (9/6/2026), di Aula Harmoni Kecamatan Mertoyudan, Ketua Divisi Perencanaan Data dan Informasi Siti Nurhayati tampil menyosialisasikan PDPB dalam forum Rapat Koordinasi Kasi Pemerintahan dan Kasi Pelayanan Desa/Kelurahan Se-Kecamatan Mertoyudan. Siti Nurhayati menyampaikan materi “Sinergi Pemerintah Desa/Kelurahan se-Kecamatan Mertoyudan dan KPU Kabupaten Magelang dalam Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Menuju Data Pemilih yang Akurat dan Berkualitas”, dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara KPU dan pemerintah desa/kelurahan dalam menjaga kualitas data pemilih sebagai fondasi demokrasi berkualitas. Ia menjelaskan Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) merupakan upaya pembaruan data pemilih secara terus-menerus untuk memastikan data pemilih selalu akurat, komprehensif, dan mutakhir. Pemerintah desa/kelurahan memiliki peran strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat dan mengetahui berbagai perubahan data kependudukan, seperti penduduk meninggal dunia, pindah domisili, pemilih pemula, maupun perubahan status yang memengaruhi hak pilih seseorang. “Pemutakhiran data pemilih menjadi tanggungjawab bersama, KPU tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga kualitas data pemilih. Diperlukan dukungan dan kolaborasi dengan pemerintah desa/kelurahan agar setiap perubahan data penduduk dapat segera ditindaklanjuti dalam proses pemutakhiran data pemilih,” ujarnya. Dalam forum tersebut, Siti Nurhayati juga sekaligus mengajak seluruh peserta rapat melakukan pengecekan status data pemilih secara langsung melalui laman Cek DPT Online, untuk mengenalkan layanan digital KPU sekaligus mendorong aparatur desa/kelurahan mengedukasi masyarakat agar aktif memastikan status data pemilihnya. Camat Mertoyudan Untung Sujoko dalam kesempatan sama menyampaikan, sinergi pemerintah desa/kelurahan dengan KPU Kabupaten Magelang perlu terus diperkuat, karena memiliki peran penting dalam mendukung kualitas pelayanan publik dan perlindungan hak konstitusional warga negara.Aparatur desa/kelurahan sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat memiliki posisi strategis dalam membantu penyampaian informasi perubahan data kependudukan yang dibutuhkan dalam proses pemutakhiran data pemilih.(***/RED) ....
Layanan Dumas KPU Magelang Terima Aduan Pencatutan Nama Dalam Sipol
KOTA MUNGKID_KPU Kabupaten Magelang melalui Layanan Publik Pengaduan Masyarakat (Dumas), kembali menerima aduan masyarakat perihal Pencatutan Nama atau Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai anggota Partai Politik (Parpol) di dalam Sistem Informasi Partai Politik (Sipol), Senin (8/6/2026). Laporan atas nama Lutfia Zaidatul Karima, warga Kecamatan Tempuran Magelang diterima petugas Layanan Publik KPU Kabupaten Magelang di ruang Layanan Publik kantor KPU Kabupaten Magelang, Jl. Soekarno-Hatta. Lutfia yang berencana akan mendaftar seleksi CASN Tahun 2026 ini , mengaku tidak tahu mengapa namanya bisa tercatat dalam Sipol sebagai anggota Partai Demokrat, padahal ia sama sekali bukan anggota partai berlambang mercy itu. Khawatir akan menjadi persoalan yang akan muncul dikemudian hari dan menghambat pekerjaannya bila hal ini tidak diklarifikasi lebih lanjut dengan lembaga terkait, Lutfia akhirnya memberanikan diri melaporkan pencatutan nama dan NIK nya sebagai anggota parpol ke KPU Kabupaten Magelang.Ia berharap namanya segera dihapus dari data Sipol. Menanggapi kekhawatiran tersebut, Petugas Layanan Publik yang menangani Laporan Pengaduan Masyarakat (Dumas) atas Pencatutan Nama/NIK dalam Sipol, menyilakan Lutfia untuk mengisi formulir tanggapan masyarakat atas pencatutan nama atau NIK sebagai anggota parpol dalam Sipol, dilengkapi dengan salinan identitas diri dan alasan keberatan namanya masuk dalam Sipol. Berkas ini menjadi dasar bagi KPU Kabupaten Magelang untuk meneruskan kepada administrator (admin) Sipol Partai Demokrat untuk segera memverifikasi dan menghapus nama Lutfia dari Sipol Partai Demokrat.(***/RED) ....
Pastikan Status Pemilih Luar Negeri, KPU Magelang Coktas di 32 Desa
KOTA MUNGKID_Dalam upaya memastikan validitas status dan keberadaan pemilih di luar negeri, KPU Kabupaten Magelang melakukan Pencocokan dan Penelitian Terbatas (Coktas) Serentak dalam proses Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) 2026. Coktas dilaksanakan dalam empat tahapan, yaitu Tahap I pada Kamis, 4 Juni 2026, Tahap II pada Senin, 8 Juni 2026, Tahap III pada Kamis, 18 Juni 2026, dan Tahap IV pada Senin, 22 Juni 2026.KPU menurunkan 6 tim Coktas, masing -masing tim didampingi tim pengawas dari Bawaslu Kabupaten Magelang. Lokus Coktas ada di 32 desa yang terindikasi memiliki data pemilih di luar negeri. Desa lokus Coktas ini tersebar di 8 kecamatan, yakni Mertoyudan, Borobudur, Muntilan, Mungkid, Salaman, Tempuran, Salam dan Srumbung. Pelaksanaan Tahap I diawali dengan Apel Persiapan Coktas Serentak di halaman kantor KPU Kabupaten Magelang yang diikuti oleh Tim Coktas KPU bersama jajaran Bawaslu Kabupaten Magelang. Ketua KPU Kabupaten Magelang, Ahmad Rofik, dalam arahan singkatnya menegaskan akurasi data pemilih merupakan fondasi penting dalam penyelenggaraan pemilu dan pemilihan. Oleh karena itu, setiap informasi terkait status pemilih luar negeri harus dipastikan kebenarannya melalui proses verifikasi dan konfirmasi langsung. “Melalui Coktas ini, kita ingin memastikan bahwa data pemilih luar negeri benar-benar sesuai dengan kondisi faktual. Data yang akurat akan memberikan jaminan perlindungan hak pilih bagi warga negara sekaligus menjadi dasar yang kuat dalam penyusunan daftar pemilih yang berkualitas,” tegas Ahmad Rofik. Hasil CoktasTahap I, terverifikasi mayoritas pemilih yang menjadi sasaran coktas masih berada di luar negeri berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh anggota keluarga kepada Tim Coktas KPU. Tim Coktas juga menemukan beberapa pemilih yang telah kembali ke Indonesia. Salah satunya adalah Kartiko Nugroho yang sebelumnya terdata sebagai pemilih luar negeri. Melalui konfirmasi yang dilakukan petugas melalui aplikasi pesan instan WhatsApp, saat ini ia berdomisili di Jakarta dan masih memiliki KTP elektronik Kabupaten Magelang. Dalam pesan konfirmasinya, Kartiko Nugroho menjelaskan bahwa dirinya saat ini tidak berada di luar negeri. “Untuk rencana ke luar negeri pada tahun 2029 masih belum tahu. Kalau misalnya saya mendapatkan beasiswa S3 kemungkinan akan ke luar negeri lagi, namun sekarang masih di Indonesia,” tulisnya kepada petugas coktas. Ketua Bawaslu Kabupaten Magelang, Muhammad Habib Shaleh, yang turut hadir dalam apel persiapan menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan Coktas ini. “Kami mengapresiasi upaya KPU Kabupaten Magelang dalam melakukan verifikasi data pemilih luar negeri secara langsung. Bawaslu akan terus melakukan pengawasan agar setiap tahapan berjalan transparan, akuntabel, dan mampu menjamin hak pilih warga negara,” ujarnya. Kadiv Perencanaan, Data dan Informasi KPU Kabupaten Magelang, Siti Nurhayati sesuai memimpin Coktas Tahap 1, menjelaskan bahwa hasil coktas akan menjadi bahan penting dalam proses pemutakhiran data pemilih berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memastikan keberadaan pemilih, tetapi juga memperbarui status kepemiluan sesuai kondisi terkini. “Temuan di lapangan menunjukkan pentingnya verifikasi langsung kepada keluarga maupun pemilih yang bersangkutan. Sebagian besar pemilih memang masih berada di luar negeri, dan ada pula pemilih yang sudah kembali ke Indonesia. Informasi seperti ini sangat penting agar data pemilih selalu akurat, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Siti Nurhayati.(***/RED) ....
KPU Magelang Ikuti Restoe Boemi, Satu Tahun Kajian Pemilu Daring Kamis Sesuatu
KOTA MUNGKID - KPU Kabupaten Magelang mengikuti kegiatan satu tahun "Kamis Sesuatu", kajian kepemiluan daring KPU Provinsi Jawa Tengah, Kamis (4/6/2026) melalui zoom meeting di ruang rapat. Hadir secara daring sebagai narasumber, Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan KPU RI, Iffa Rosita, Agus Riwanto Dosen Hukum Tata Negara UNS dan Yusuf Agung Purnama, praktisi dan lawyer Pilkada 2024. "Restoe Boemi dijadikan tema, yang mengingatkan kita akan tugas, kewajiban dan wewenang lembaga kita. Program ini telah memberi warna, konsep out of the box, yang telah memotivasi kita semua untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Bisa saling bertukar informasi, diskusi dan selalu memberi warna buat lembaga kita. Disisi lain juga sebagai wadah untuk menjaga intergritas dan membangun demokrasi di negara kita," kata Handi Tri Ujiono Ketua KPU Jawa Tengah saat membuka kegiatan secara resmi. Muslim Aisha, Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Jawa Tengah dalam kesempatan sama mengungkapkan perasaanya. "Terus terang, perasaan saya hari ini campur aduk. Senang, sekaligus terharu dan sedikit ada sedihnya. Awal kegiatan ini berawal dari hal-hal sederhana, namun tidak terbayangkan akan menjadi sesuatu yang besar bahkan hingga bisa sampai satu tahun. Bahkan mampu melibatkan beberapa KPU dari daerah lain, juga dari KPU RI serta lembaga lain," imbuhnya. Iffa Rosita, Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan KPU RI menambahkan, kegiatan ini merupakan sebuah program yang bagus, menginspirasi dan bisa diadopsi oleh KPU provinsi dan KPU Kabupaten/Kota lain di Indonesia. Karena bisa menjadi wadah diskusi, shering informasi dan koordinasi lembaga serta mempererat tali silaturahmi, dan budaya belajar, penguatan demokrasi, dan meningkatkan nilai-nilai integritas. "Ini juga bagus sebagai bagian dari validasi lembaga, implementasi dari simbiosis mutualisme dari lembaga lain yang menjadi narsum di kegiatan ini. Ini juga sebagai wadah dan ruang kebersamaan, keberkahan, dan kemanfaatan. Ini sebuah program dari KPU Jawa Tengah yang luar biasa, inovatif dan kreatif, sebuah gebrakan baru yang patut kita apresiasi," tegasnya. Terakhir, Yusuf Agung Purnama, praktisi dan lawyer Pilkada 2024, menambahkan, kegiatan ini tidak hanya ruang belajar, tapi dialog, diskusi yang sehat, belajar tentang demokrasi dan tentu berbagi informasi. "Kegiatan ini sangat menginspirasi, untuk menghadirkan kemanfaatan buat lembaga dan kita bersama," pungkasnya. (***/Red) ....
KPU Magelang Siap Lakukan Coklit Terbatas Serentak Bagi Pemilih Luar Negeri
KOTA MUNGKID_ KPU Kabupaten Magelang menggelar Rapat Persiapan Coklit Terbatas (Coktas) Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) 2026 terhadap pemilih yang saat ini tengah berada di luar negeri, Rabu (3/6/2026, di Aula KPU Kabupaten Magelang, diikuti seluruh jajaran KPU. Lokus Coktas pemilih di luar negeri ini akan dilakukan serentak di delapan wilayah kecamatan, yaitu Mertoyudan, Salaman, Borobudur, Salam, Muntilan, Tempuran, Srumbung, dan Mungkid. Data pemilih tersebar di 32 desa di Kabupaten Magelang. Sebanyak enam Tim Coktas KPU Kabupaten Magelang yang diterjunkan akan memastikan status dan keberadaan warga yang terindikasi masuk dalam data pemilih luar negeri, sehingga data pemilih yang dimiliki KPU tetap akurat dan mutakhir. Ketua KPU Kabupaten Magelang, Ahmad Rofik, membuka kegiatan sekaligus memberikan arahan kepada seluruh peserta. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa akurasi data pemilih merupakan salah satu kunci utama dalam mewujudkan pemilu yang berkualitas dan berintegritas. “Pemutakhiran data pemilih harus dilakukan secara berkelanjutan dan berbasis fakta di lapangan. Melalui Coklit Terbatas terhadap pemilih luar negeri ini, kita ingin memastikan bahwa setiap data yang tercatat benar-benar sesuai dengan kondisi sebenarnya. Oleh karena itu, seluruh jajaran harus melaksanakan tugas dengan cermat, teliti, dan penuh tanggung jawab,” ujar Ahmad Rofik. Ia menambahkan kegiatan ini merupakan bentuk komitmen KPU Kabupaten Magelang menjaga kualitas daftar pemilih melalui proses verifikasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurut Rofik, data pemilih yang valid akan memberikan kepastian hak pilih bagi setiap warga negara sekaligus meningkatkan kualitas demokrasi. Ketua Divisi Perencanaan, Data dan Informasi, Siti Nurhayati, menjelaskan teknis mekanisme pelaksanaan Coklit Terbatas terhadap data pemilih luar negeri. Ia menyampaikan bahwa petugas akan melakukan verifikasi langsung terhadap warga yang terindikasi berada atau bekerja di luar negeri untuk memastikan kesesuaian data dengan kondisi faktual. “Coklit Terbatas ini dilakukan untuk memastikan apakah yang bersangkutan masih berdomisili di wilayah Kabupaten Magelang, sedang bekerja atau menetap di luar negeri, maupun telah memenuhi ketentuan sebagai pemilih luar negeri. Hasil verifikasi tersebut akan menjadi dasar dalam proses pemutakhiran data pemilih berkelanjutan,” jelas Siti Nurhayati.(***/RED) ....
Publikasi
Opini
Oleh : Yohanes Bagyo Harsono, ST Ketua Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kabupaten Magelang PESTA demokrasi di Indonesia berlangsung setiap lima tahun sekali. Terlepas pro dan kontra, dari setiap pelaksanaan pemilu maupun pemilihan itu, selalu saja menyajikan cerita-cerita menarik dan berbeda. Tidak jarang, dari cerita-cerita itu ada sesuatu yang bisa diambil dan menjadi bahan evaluasi bagi jajaran penyelenggara, agar pelaksanaannya kedepannya bisa lebih baik lagi. Tulisan ini ingin mengupas tentang pemilih disabilitas. Kenapa memilih tema ini ?Jawabannya agar pemilih disabilitas ini bisa menggunakan hak pilihnya secara maksimal setiap pelaksanaan pemilu/pemilihan. Sebagai bahan refleksi, adalah saat pelaksanaan Pilkada 2024 di Kabupaten Magelang. Dari data KPU Kabupaten Magelang, jumlah pemilih disabilitas diwilayah ini pada Pilkada kemarin ada 6.064 pemilih dari 1.014.525 pemilih yang masuk DPT atau 0,6 %. Dari 6.064 pemilih disabilitas itu, terdiri dari disabilitas sensorik rungu 357 atau 6 %, disabilitas sensor wicara 847 atau 14 %, disabilitas mental ada 1.007 atau 17 %, disabilitas fisik 2.830 atau 47 %, disabilitas sensorik netral 634 atau 634 atau 10 %, dan disabilitas intelektual ada 389 atau 6 %. Dari jumlah itu, kehadiran mereka di TPS pada Pilkada 2024 mencapai 1.744 orang atau hanya sekitar 28,8 %. Meski sedikit, namun pemilih disabilitas selalu menyumbang kenaikan angka partisipasi setiap pelaksanaan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilkada) diwilayah ini. Pada pelaksanaan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Magelang Tahun 2008, angka partisipasinya mencapai 72,5 %, Tahun 2013 menurun menjadi 71,2 %, Tahun 2018 naik lagi menjadi 79,5 % dan di Tahun 2024 kemarin, naik lagi menjadi 80,6 %; dari jumlah ini, 28,8 % nya berasal dari pemilih disabilitas. Tentu banyak yang bertanya, dari 6.064 pemilih disabilitas dari total DPT Pilkada Kabupaten Magelang Tahun 2024 yang mencapai 1.014.525 pemilih, kenapa baru 28,8 % yang menggunakan hak pilihnya? Inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini. Dalam sebuah pertemuan dengan kelompok-kelompok pemilih disabilitas paska pelaksanaan Pilkada 2024 di Aula Kecamatan Mertoyudan dan beberapa pertemuan bersama komunitas penyandang disabilitas, ada banyak fenomena muncul dan bisa menjadi faktor penyebabnya. Diantaranya, banyak keluarga yang “menyembunyikan” keberadaan mereka, sehingga mereka tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Ini terjadi karena masih adanya stigma sebagian kecil masyarakat, yang menganggap hak pilih mereka kecil pengaruhnya. Tidak sedikit dari keluarga-keluarga yang untuk menjaga “image” keluarga, beberapa “menyembunyikan” mereka terutama dengan tidak melibatkan mereka dalam setiap proses kepemiluan. Pada akhirnya, banyak dari mereka yang tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) baik di Pemilu maupun Pilkada. Ini terjadi terutama dialami penyandang disabilitas mental. Hal lainnya, ada kesalahan entah disengaja atau tidak oleh beberapa penyelenggara, tidak memasukkan mereka sebagai pemilih disabilitas, terutama saat tahapan pantarlih. Ini terjadi terutama pada pemilih disabilitas fisik (memakai kaki sambung/penyakit kulit) atau disabilitas netra (bisa melihat tapi kabur/buram), dimana secara fisik dan intelektual mereka normal. Dari latar belakang itu, mereka dimasukkan sebagai pemilih normal. Padahal data Badan Kesbangpol dan Dinas Sosial, mencatat mereka adalah penyandang disabilitas. Sebab lainnya, beberapa diantaranya mereka mendirikan atau membuat komunitas kelompok-kelompok sendiri. Ini terjadi biasanya karena adanya perbedaan prinsip dan tidak sejalan lagi dengan pengurus sebelumnya. Akibatnya, beberapa kelompok mereka tidak masuk dalam data baik di KPU, Badan Kesbangpol maupun Dinas Sosial. Pada akhirnya mereka tidak tersentuh kegiatan sosialisasi tentang kepemiluan. Ini banyak dialami penyandang disabilitas fisik, sensorik rungu, wicara serta netra Hal lainnya, karena minim akses saat di TPS. Ini terjadi karena beberapa TPS belum menyediakan akses untuk mereka. Kenapa ini terjadi? Karena pemilih disabilitas tidak “dimasukkan” dalam DPT, padahal kenyataan dilapangan, mereka ada. Akibatnya mereka enggan ke TPS. Disisi lain, karena tidak ada transportasi atau orang yang mengantar mereka ke TPS. Beberapa faktor inilah yang muncul saat evaluasi paska Pilkada 2024 kemarin, bersama komunitas dan kelompok-kelompok disabilitas diwilayah ini, yang diadakan KPU Kabupaten Magelang. Salah satu tujuan dari evaluasi ini, tentu ada masukan dan harapan dari mereka tentang penyelenggaraan Pemilu dan Pemilihan kedepan, agar angka partisipasi dari penyandang disabilitas bisa meningkat. Beberapa solusi agar angka partisipasi mereka meningkat, diantaranya tentu sosialisasi kepada kelompok mereka harus dimasifkan. Tidak hanya menyasar pada satu atau dua kelompok saja, tapi semua kelompak yang ada dimereka. Sosialisasi juga tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Hal lainnya, tentu menyadarkan masyarakat yang memiliki anggapan, jika suara anggota keluarga difabel tidak penting adalah tidak benar. Disisi lain, juga disampaikan bahwa satu suara dari mereka bisa menentukan nasib bangsa dan negara kedepan. Solusi lain, adalah meminta petugas pantarlih dan penyelenggara di tingkat desa, untuk lebih teliti lagi dalam mendata mereka. Dengan begitu, data kelompok difabel jadi lebih tepat dan akurat. Harapannya tidak ada lagi yang tercecer dari kelompok difabel. Jika datanya sudah akurat, tentu dalam membuat atau menentukan lokasi TPS juga bisa lebih tepat lagi. Akses di TPS nya juga bisa lebih “ramah” terhadap mereka. Jika memungkinkan, ada anggota penyelenggara atau keluarga difabel yang ditunjuk, untuk menjemput dan mengantar mereka ke TPS dan kembali ke rumah. Beberapa solusi itu, semoga kedepan tidak ada lagi pemilih dari kelompok disabilitas yang tercecer tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Bagaimana pun, satu suara sangat menentukan nasib bangsa dan negara kedepan. Mari kita jaga dan lindungi hak pilih mereka. (***)
Meneladani Pesan Dari Para Pahlawan Oleh : Yohanes Bagyo Harsono, ST Kadiv Sosdiklih, Parmas dan SDM KPU Kabupaten Magelang MENARIK apa yang dipesankan pahlawan nasional, Dr Cipto Mangunkusumo, yang dibacakan saat upacara memperingati Hari Pahlawan 10 November 2025, Senin tadi pagi. Beliau menyampaikan “Perlawanan yang tidak lahir dari pikiran merdeka, hanyalah letupan emosi, bukan perjuangan!” Pesan ini sangat relevan untuk kita jadikan pedoman langkah kita kedepan, agar tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang sebenarnya bukan perjuangan, tapi upaya pihak tertentu mengatasnamakan perjuangan rakyat. Padahal perjuangan yang dimaksud adalah untuk kepentingan segelintir orang. Dimasa kemerdekaan ini, banyak hal yang sering membuat kita bingung. Terkadang kita mudah terpengaruh dan bahkan ikut serta dalam sebuah acara yang dibungkus dengan kata-kata untuk perjuangan rakyat. Kita sering tidak berpikir jauh. Apakah itu benar untuk perjuangan rakyat? Ataukah untuk kepentingan-kepentingan segelintir kelompok saja? Hal senada, pesan lagi dari salah satu pahlawan nasional yang lain. Ida Anak Agung Gde Agung. Pesannya juga sangat relevan dengan masa sekarang ini. “Politik bukan alat kuasa, tetapi alat untuk menjaga martabat bangsa”. Dimasa kini, politik terkadang dipakai oleh para elit negeri ini untuk memperjuangkan dan mengamankan kepentingan golongan dan kelompoknya. Tidak untuk bangsa. Hanya saja, dengan politik itu, mereka mengatasnamakan rakyat. Hanya rakyat yang dimaksud adalah kelompok-kelompoknya saja. Para elit politik dengan cerdik dan cerdas, mengobok-obak emosi rakyat. Kata-kata manis, sering membuat rakyat terlena. Kita sering kita tidak menelaah jauh. Tidak berpikir jauh dan meneliti sebelum ikut dalam arus mengatasnamakan “perjuangan” itu. Apa yang dipesankan Dr Cipto Mangunkusumo dan Ida Anak Agung Gde Agung, patut untuk kita renungkan bersama. Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf dalam sambutan saat upacara memperingati Hari Pahlawan menyampaikan, ada tiga hal yang dapat diteladani dari para pahlawan bangsa. Pertama tentang kesabaran. Dimana mereka sabar menempuh ilmu dan menyusun strategi, sabar menunggu momentum dan sabar membangun kesabaran ditengah keterbatasan. Kedua tentang semangat mengutamakan kepentingan bangsa diatas segalanya. Dimana para pahlawan tidak berebut jabatan, tidak menuntut balasan, tidak mengincar apa yang ditinggalkan penjajah. Tapi mereka justru kembali ke rakyat, mengajar, membangun, menanam dan melanjutkan pengabdian. Dan yang ketiga, adalah pandangan jauh kedepan. Para pahlawan berjuang untuk generasi yang akan datang, untuk kemakmuran bangsa yang mereka cintai Dan menjadikan perjuangannya sebagai ibadah. Itulah kekuatan yang mereka tinggalkan untuk kita. Kini saatnya, cita-cita para pahlawan itu kita teruskan. Tidak perlu dengan bambu runcing, melainkan dengan ilmu, empati dan pengabdian. Hanya saja, semangat mereka tetap sama, yakni membela yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tetinggal dari arus kemajuan. (*)
HARI PAHLAWAN Saatnya Meneruskan Cita-cita Pahlawan **)Oleh Yohanes Bagyo Harsono, Anggota KPU Kabupaten Magelang Divisi Sosdiklih Parmas dan SDM SIAPA yang tidak tahu Pangeran Diponegoro? Tentu semua orang terutama Warga Negara Indonesia (WNI), tahu siapa dia. Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan nasional. Ia adalah seorang pangeran di Jawa yang menentang pemerintahan Kolonial Belanda. Putra sulung Hamengku Buwana III ini, memegang peranan penting dalam perang di Jawa Tahun 1825 - 1830. Setelah kalah dan tertangkap, ia diasingkan ke Makasar, dan meninggal di sana pada usia 69 tahun. Tujuan perangnya saat itu adalah melawan Kolonial Belanda. Di era saat ini, kita tetap diharuskan “berperang’. Namun tentu berbeda dengan perangnya dengan saat Pangeran Diponegoro. “Perang” kita saat ini, tidak melawan Kolonial Belanda atau penjajah, dan bertujuan agar Bangsa Indonesia merdeka, tapi “perang” yang lain. Tujuan, target, sasaran dan cara berperang yang kita lakukan saat ini, sudah jauh berbeda. Dahulu para pahlawan berperang dan berjuang tidak dengan banyak bicara, namun dengan keberanian dan merelakan darahnya tertumpah, bahkan meski harus kehilangan nyawanya. Saat ini, tugas kita tidak lagi mengangkat bambu runcing dan senjata api, tetapi mengangkat ilmu, kerja keras, dan kejujuran/integritas. Yang pasti semangat para pahlawa dan kita saat ini, harus tetap sama. Yakni Bangsa Indonesia harus berdiri tegak. Indonesia tidak boleh kalah dengan negara lain. Belum lama ini, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2025 kemarin. Dalam sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir mengatakan, generasi muda harus terus berjuang dan berani bermimpi besar serta pantang menyerah, dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Pemuda bukan sekadar pelengkap sejarah, tetapi penentu arah bangsa ke depan. Kita butuh pemuda yang patriotik, gigih dan empati, yang mencintai tanah air dengan tindakan nyata dan tetap berdiri ketika badai datang. Dalam sambutan yang dibacakan dalam upacara bendera di sekolah-sekolah dan instansi pemerintah itu, ia berkeinginan agar generasi muda tetap semangat mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. Semangat muda, harus disalurkan dan diwadahi melalui saluran-saluran yang ada. Di sisi lain, sebagai rakyat Indonesia, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengisi dan meneruskan cita-cita para pahlawan. Salah satunya dengan ikut terlibat dalam pembangunan di negara kita ini. Keterlibatan itu, tentu menyesuaikan kemampuan dan kompetensi kita masing-masing. Bagi pelajar bisa dengan belajar rajin. Bagi guru, dengan mengajar dengan baik sesuai tugas, pokok dan fungsinya sebagai tenaga pendidik. Sebagai dokter, tentu memberikan pelayanan kesehatan dan pengobatan yang baik, demikian seterusnya. Semangat pahlawan agar Indonesia terus berdiri tegak, harus kita lestarikan dan rawat terus-menerus. Jangan ada bangsa atau pihak lain yang mencoba merongrong bangsa kita. Jika sampai terjadi, sudah menjadi kewajiban kita untuk bersatu melakukan perlawanan. Tidak harus mengotong senjata, tapi dengan ilmu dan kecakapan yang kita miliki. Mari kita isi kemerdekaan sesuai profesi yang kita miliki. Selamat hari pahlawan. MERDEKA!!
**) Oleh Siti Nurhayati, Anggota KPU;Ketua Divisi Perencanaan Data dan Informasi KPU Kabupten Magelang Program Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Tahun 2025 yang kini tengah dilaksanakan KPU Kabupaten Magelang tidak lepas dari peran operator Sidalih yang bekerja tanpa kenal lelah. Mereka adalah garda terdepan yang memastikan daftar pemilih tetap bersih, akurat, dan mutakhir. Operator Sidalih merupakan ujung tombak dalam memastikan PDPB berjalan dengan baik. Ketelitian dan komitmen mereka patut diapresiasi, karena dari kerja-kerja teknis hingga pelayanan langsung ke masyarakat inilah lahir data pemilih yang bersih dan akurat demi suksesnya penyelenggaraan pemilu. Keuletan, kesabaran, dan profesionalitas para operator menjadi kunci suksesnya PDPB. Mereka bekerja senyap, namun hasilnya berdampak besar bagi tegaknya demokrasi di Indonesia. Melalui tangan-tangan operator Sidalih tangguh inilah, data pemilih yang valid dapat terjaga demi pemilu yang jujur, adil, dan berkualitas Setiap hari operator harus berhadapan dengan ribuan data pemilih untuk diperiksa satu per satu, disinkronkan dengan data kependudukan, hingga memastikan tidak ada pemilih ganda maupun pemilih Tidak Memenuhi Syarat (TMS) yang masih tercatat. Tak hanya itu, mereka juga menindaklanjuti masukan dan saran perbaikan dari Bawaslu Kabupaten Magelang, baik terkait pemilih TMS maupun pemilih Memenuhi Syarat (MS), sehingga kualitas data semakin terjamin validitasnya. Peran mereka tidak sebatas mengelola dan membersihkan data. Operator juga turut aktif menjadi bagian dari Tim PDPB KPU Magelang dalam kegiatan sosialisasi ke masyarakat. Mereka menerima laporan langsung baik melalui Layanan Helpdesk PDPB maupun Layanan PDPB on the spot, yang memudahkan masyarakat menyampaikan masukan data pemilih. Dengan demikian, operator bukan hanya bekerja di balik layar, tetapi juga terjun langsung melayani masyarakat..**)
*) Oleh: Yohanes Bagyo Harsono,ST Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kabupaten Magelang MINGGU, 17 Agustus 2025 besok, Bangsa Indonesia akan tepat berusia 80 tahun. Saat itu, seluruh rakyat akan memperingati hari dimana para pendiri bangsa menyatakan sebagai hari Kemerdekaan Indonesia. Hari yang bersejarah dan selalu diperingati oleh segenap anak bangsa di Negara Kesatuan rebupilik Indonesia (NKRI). Untuk diketahui, Presiden RI Prabowo Subianto, Rabu (23/7/2025) kemarin, telah menetapkan logo dan tema HUT ke-80 Republik Indonesia, yakni 'Bersatu, Berdaulat. Rakyat sejahtera, Indonesia Maju'. Prabowo mengatakan tema ini selaras dengan visi bangsa. “Tema ini dipilih, karena kita ingin selalu menjadi negara yang bersatu, Bhinneka Tunggal Ika ini adalah dorongan kita, hasrat kita,” katanya, dalam pidato peluncuran kemarin. Tema ini juga dipilih karena mencerminkan semangat Bangsa Indonesia untuk bersatu padu dalam mengusung kesepahaman sebagai satu bangsa, menjembatani harapan satu sama lain, dan bergerak maju bersama dalam menyongsong kemajuan bangsa. Tema ini juga menjadi identitas utama dalam seluruh rangkaian kegiatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, yang kemeriahannya diharapkan dapat dirasakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia sebagai simbol semangat kebangsaan yang menyatukan, keyakinan akan masa depan yang lebih baik, serta rasa bangga menjadi Bangsa Indonesia. Sedang logo HUT ke-80 Republik Indonesia tahun ini berangkat dari semangat “Dimiliki Bersama, Dirayakan Bersama”, yang mengangkat kebanggaan kolektif sebagai energi penggerak bagi bangsa yang berdaulat, sejahtera, dan maju bersama, sebagai cerminan arah perjalanan Indonesia: dimulai dari kekuatan persatuan, diwujudkan dalam kesejahteraan rakyat, dan diarahkan menuju masa depan yang maju Pada Tahun 2024 kemarin, kita baru saja menyelesaikan pelaksanakan pesta demokrasi dengan Pemilu dan Pemilihan Kepada Daerah. Peringatan HUT ke-80 Rebuplik Indonesia ini, diharapkan menjadi momentum kita bersama untuk kembali bersama, bersatu sebagai rakyat dalam wadah NKRI. Semua tentu menyadari, saat Pemilu dan Pilkada kemarin, kita memiliki pandangan, keyakinan, dan pilihan berbeda-beda dalam mendukung calon Presiden/Wakil Presiden, Wakil Rakyat di DPD, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten serta Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota. Kini saatnya, semua perbedaan saat Pemilu dan Pilkada kemarin, kita anggap selesai. Saatnya kita kembali songsong pemerintahan baru dengan pemimpin baru. Kita satukan tekat, untuk menyukseskan pemerintahan hasil proses demokrasi yang kita laksanakan setiap lima tahun sekali sesuai bunyi UUD 1945 pasal 22 E. Mari kita isi kemerdekaan Indonesia dengan apa yang kita bisa. Kita bantu pemerintahan dengan segenap akal, budi dan kemampuan yang kita miliki. Sulit memang terutama bagi yang kemarin kalah, namun jangan biarkan pikiran-pikiran kita untuk terus mengingat ‘kekalahan’ itu. Saatnya, kita iklaskan kekalahan itu, dan mulai dengan semangat baru untuk mendukung pemerintahan. Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan Bangsa Indonesia yang mengajarkan kita untuk berbeda-beda, namun tetap satu ditengah perbedaan dalam keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan bahasa. Semboyan ini, menyatukan seluruh masyarakat Indonesia yang majemuk dalam satu kesatuan bangsa. Karena itu, mari kita saling menghargai, toleransi, dan gotong royong dalam segala perbedaan. Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari refleksi kita untuk terus melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa tersebut. Pemerintah menegaskan komitmennya menjadikan peringatan ini sebagai ruang kolaborasi antara negara dan rakyat, tanpa mengurangi nilai-nilai sakral perjuangan kemerdekaan. Momen peringatan HUT ke-80 RI menjadi momen kita untuk mengisi kemerdekaan mulai dari lingkungan dimana kita berada dan dimana kita bekerja. Kemerdekaan harus dimanfaatkan untuk terus membangun bangsa, dengan meningkatkan kualitas sumber daya yang kita miliki untuk mengatasi berbagai tantangan bersama. Hari Kemerdekaan harus menjadi pemicu semangat nasionalisme dan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia. (*)