Siswa SMPN 4 Satu Atap Pakis Antusias Ikuti Simulasi Pemungutan Suara
KOTA MUNGKID_ Sebanyak 118 siswa SMPN 4 Satu Atap Pakis antusias mengikuti Simulasi Pemungutan dan Penghitungan Suara yang digelar KPU Kabupaten Magelang dalam format kegiatan KPU Goes To School Tahun 2026, Kamis (8/10/2026), di aula sekolah setempat. Kegiatan ini sekaligus dalam rangka memberikan bimbingan teknis bagi Panitia Pemilihan Ketua OSIS (Pemilos) SMPN 4 Satu Atap Pakis, yang akan menggelar Pemilos pada pertengahan Oktober Tahun 2026 ini. Pemilos akan diikuti 3 kandidat calon ketua OSIS dari sekolah menengah pertama yang berlokasi di lereng barat gunung Merbabu, tepatnya di dusun Kragilan Desa Muneng Warangan Kecamatan Pakis. Meskipun belum berusia 17 tahun dan terkesan malu-malu, siswa yang kebanyakan berasal dari desa-desa disekitar lereng barat Gunung Merbabu ini juga nampak serius mengikuti penyampaian materi ajakan menjadi anak muda cerdas berdemokrasi yang disampaikan Ketua Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan SDM KPU Kabupaten Magelang, Yohanes Bagyo Harsono. Dalam sesi simulasi pemungutan dan penghitungan suara selayaknya petugas KPPS di TPS pada Pemilu dan Pilkada, 7 siswa yang memerankan petugas KPPS nomor 1 sampai dengan nomor 7, terpantau lancar melakukan simulasi dibawah arahan langsung Tim KPU Goes To School KPU Kabupaten Magelang, meskipun pada awalnya mereka terlihat takut dan enggan ketika ditunjuk menjadi voluntir. Tak hanya petugas KPPS yang diperankan, simulasi juga didukung 25 siswa yang berperan sebagai pemilih, memberikan hak suaranya di bilik suara selayaknya pemilu sesungguhnya, menggunakan surat suara format simulasi, mencoblos di bilik suara dan terlahir mencelupkan tinta pada salah satu jari tangan, sebagai bukti sudah menggunakan hak suaranya. Di sela-sela simulasi, Syahwa, salah satu peserta KPU Goes To School berani mengajukan pertanyaan tentang bagaimana bila surat suara dicoblos dua kali pada tempat yang berbeda. Menanggapi pertanyaan itu, Yohanes Bagyo Harsono menjawab jika hal itu terjadi maka surat suara dinyatakan tidak sah. Atas keberanian Syahwa bertanya, Tim KPU Goes To School memberikan hadiah berupa waist bag khas KPU. Sebelumnya, dalam sesi pembukaan acara, Kepala Sekolah SMPN 4 Satu Atap Pakis, Widi Astuti, meberikan pesan kepada anak didiknya agar serius dan berkonsentrasi mengikuti kegiatan KPU Goes To School, yang pada tahun 2026, baru pertama kalinya dilakukan KPU Kabupaten Magelang kepada siswa pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).Ia juga berterima kasih kepada Tim KPU Goes To Shool yang sudah bersedia hadir berbagi informasi demokrasi dan pemilu kepada siswa-siswanya. (***/RED) ....
Sasar 10 SLTA, KPU Mengajar Hadirkan Kasi Datun Kejari, Ajak Siswa Sadar Hukum Sejak Dini
KOTA MUNGKID – KPU Kabupaten Magelang kembali menggelar program KPU Mengajar Tahun 2026, menyasar 10 SLTA di Kabupaten Magelang. Untuk pertama, dilaksanakan di SMA Negeri 1 Muntilan, Rabu (7/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, KPU Kabupaten Magelang, mengandeng Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara (Kasi Datun) pada Kejaksaan Negeri Kabupaten Magelang, untuk menyampaikan materi ajakan sadar hukum sejak dini. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Kabupaten Magelang, Dedi Riyanto dalam kesempatan itu mengajak para siswa untuk mengetahui hukum, memahami aturan, menaati aturan meski tidak diawasi, menghormati hak orang lain, dan berani melakukan yang benar. "Untuk kalangan pelajar, harus memiliki 5 karakter sadar hukum, yakni jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan berani melakukan yang benar," ujar Dedi. Selain itu, Dedi juga menekankan pentingnya sadar hukum di era digital.Siswa diminta untuk tidak menyebarkan hoaks dengan mudah tanpa menyaringnya lebih dulu, tidak melakukan cyberbullying, tidak menghina dan memfitnah, serta tidak menyebarkan foto atau video orang lain tanpa izin. "Periksa kebenaran informasi sebelum menyebarkan. Postingan dapat dihapus, tapi jejak digital belum tentu hilang. Karena itu, gunakan media sosial untuk belajar, berkarya, berprestasi dan menginspirasi," tegasnya. Sebelumnnya, Ketua KPU Kabupaten Magelang, Ahmad Rofik dalam kesempatan pertama, meminta para siswa untuk menjadi pemilih cerdas. Menurutnya, ada beberapa cara untuk menjadi pemilih cerdas, yakni dengan memastikan terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), mengetahui rekam jejak calon yang akan dipilih, mengetahui dan mempelajari visi, misi serta program kerja calon, menolak politik uang, tidak mudah terpengaruh dengan berita hoaks, kampanye hitam dan kampanye negatif, menghindari politik identitas, serta menjadi pemilih yang aktif. Ia juga menjelaskan bahwa pemilu berkualitas adalah pemilihan umum yang terlaksana secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, dengan angka partisipasi yang tinggi, jauh dari politik uang, minim pelanggaran, penyelenggara yang berintegritas, independen dan objektif, transparan, serta penegakan hukum yang akuntabel dan berjalan secara kondusif. Terpisah, Ketua Divisi Sosialisasi Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kabupaten Magelang, Yohanes Bagyo Harsono menjelaskan, Program KPU Mengajar ini, menyasar 10 jenjang SLTA, terdiri 7 SMA, 2 SMK dan 1 MA. Setelah SMA Negeri 1 Muntilan, selanjutnya adalah SMAN 1 Candimulyo, SMAN Kota Mungkid, SMAN 1 Mertoyudan, SMAN 1 Salaman, SMAN 1 Dukun, SMA Van Lith Muntilan, SMK Satya Pratama, SMK Ma’arif Kota Mungkid dan MAN 1 Magelang. “Dari kegiatan ini, kami berharap para siswa atau pemilih pemula kedepan, bisa menjadi pemilih cerdas dan sadar akan hukum,” pungkasnya. (***/RED) ....
Ketua DPRD Kab Magelang : Demokrasi Milik Rakyat
KOTA MUNGKID_Ketua DPRD Kabupaten Magelang Sakir, menegaskan demokrasi adalah milik rakyat, karena kedaulatan ada ditangan rakyat.Membangun demokrasi yang berkualitas tidak hanya dilakukan saat ada pemilu atau pilkada saja, namun juga pasca pemilu atau pilkada. “Sayangnya yang kerapkali kita temui, masyarakat saat memutuskan calon yang akan dipilih saat memberikan hak suaranya di TPS lebih banyak dipengaruhi isi tas daripada kapabilitas calon”, lontar Ketua DPRD Kabupaten Magelang dari Fraksi PDI-Perjuangan ini yang disambut senyum tawa peserta KPU Sambang Ndeso Tahun 2026 putaran terakhir di Desa Kaliabu Kecamatan Salaman, yang digelar KPU Kabupaten Maelang di Gedung Serbaguna Balaidesa Kaliabu, Rabu (7/10/2026). Ketua DPRD yang dilantik 16 Oktober 2024 ini menjelaskan, praktik politik uang ini sama sekali tidak mencerminkan ciri demokrasi pancasila. Mereka mengabaikan rekam jejak calon, hanya mengutamakan kepentingan ekonomi sesaat karena memilih berdasarkan siapa yang memberikan amplop. Hal senada juga disampaikan Muhammad Fahrudin, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang dari Fraksi PKB. Ia mengatakan hambatan demokrasi salah satunya adalah adanya orientasi kepentingan ekonomi sesaat saat akan menggunakan hak pilih pada pemilu dan pilkada. Hambatan lainnya menurut Fahrudin, masyarakat masih gampang atau mudah percaya hoax, kampanye hitam (black campaign) yang banyak beredar didunia maya, baik media sosial maupun platform digital lainnya. “Bahkan sikap apatis masyarakat akan arti pentingnya pemilu juga turut menghambat demokrasi”, ujarnya. Hartono, salah satu peserta KPU Sambang Ndeso mewakili tokoh masyarakat Desa Kaliabu, menanggapi materi dari dua narasumber itu mengatakan, politik uang uang sebenarnya tidak akan terjadi kalau tidak ada pihak yang mengiming-imingi. “Karena ada iming-iming inilah , maka terjadi perang isi tas, siapa yang bisa memberi banyak bisa jadi akan banyak dipilih, meskipun itu tidak selalu berlaku bagi pemilih yang sudah fanatik pada pilihannya”, ungkap Hartono. Menjawab pernyataan itu, Fahrudin mengatakan pengaruh politik uang akan sangat terasa pada kualitas wakil rakyat yang ada saat ini. Saat pembahasan Peraturan Daerah (Perda) contohnya, kalau wakil rakyat tidak memiliki kualitas yang sesuai maka dapat dipastikan kebijakan peraturan yang dihasilkan tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat. Nawadzin Ali, mewakili generasi muda Kaliabu, menanyakan kepada KPU, apakah pendidikan pemilih dilakukan dua arah, kepada peserta pemilu dan masyarakat sebagai pemilih. Siti Nurhayati Ketua Divisi Perencanaan Data dan Informasi KPU Kabupaten Magelag menjawab KU memiliki tugas pokok fungsi melaksanakan pendidian pemilih berkelanjutan tidak terbatas hanya saat tahapan pemilu atau pilkada saja. Sasaran nya juga mencakup peserta pemilu dan masyarakat sebagai pemilih.(***/RED) ....
Pengumuman Hasil Rekapitulasi PDPB Triwulan III Tahun 2026
KOTA MUNGKID_ KPU Kabupaten Magelang mengumumkan hasil Rapat PlenoTerbuka Pemutakhiran Daftar Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan III Tahun 2026 tingkat Kabupaten Magelang. Untuk dapat mengakses Berita Acara (BA) dan Keputusan (SK) KPU Kabupaten Magelang tentang Penetapan Rekapitulasi PDPB Triwulan III Tahun 2026, Silakan Scaning QR Code yang tertera dalam gambar/flyer pengumuman ini. (***) ....
Hingga Triwulan III Tahun 2026, KPU Magelang Catat 9.308 Pemilih Baru Masuk Daftar Pemilih
KOTA MUNGKID_Memasuki Triwulan III Tahun 2026, KPU Kabupaten Magelang mencatat ada 9.308 orang masuk kategori pemilih baru yang masuk Daftar Pemilih, 6.346 orang pemilih dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) dikarenakan alih status dari Sipil menjadi TNI/POLRI, meninggal dunia dan pindah domisili keluar wilayah Kabupaten Magelang, serta 4.516 orang pemilih melakukan perbaikan elemen data pemilih seperti perbaikan alamat karena pindah domisili dalam wilayah Kabupaten Magelang, alih status dari sipil menjadi TNI/POLRI. Hal itu mengemuka dalam Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Pemutakhiran Daftar Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan III Tahun 2026 tingkat Kabupaten Magelang, yang dibuka dan dipimpin langsung Ketua KPU Ahmad Rofik, Rabu (30/9/2026), di aula kantor KPU setempat, diikuti pimpinan OPD terkait, pengurus parpol peserta Pemilu 2024, pengurus organisasi perempuan dan kepemudaaan serta LSM pemerhati pemilu dan demokrasi. “Rapat pleno terbuka Rekapitulasi Pemutakhiran Daftar Pemilih Berkelanjutan (PDPB) di ditingkat KPU Kabupaten/Kota digelar setiap tiga bulan sekali, untuk merekap adanya pemutakhiran atau perubahan data dari Daftar Pemilih Pemilu atau Pemilihan (Pilkada) terakhir, ‘, terang Ahmad Rofik saat memimpin rapat pleno didampingi 4 anggota KPU lainnya. Dalam forum itu Ketua KPU membacakan Berita Acara Rekapitulasi Pemutakhiran Daftar Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan III 2026, dari 21 kecamatan dan 372 desa di Kabupaten Magelang terekap Pemilih Laki-Laki sebanyak 520.995, Pemilih Perempuan ada 523.978, jumlah total pemilih sebanyak 1.044.973 orang. Dalam kesempatan sama, Ketua Divisi Perencanaan Data dan Informasi Siti Nurhayati menjelaskan Pemutakhiran Daftar Pemilih Berkelanjutan (PDPB) bersumber dari data DPT Pemilu/Pemilihan, data Kependudukan yang dikonsolidasikan setiap 6 bulan sekali oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan bidang dalam negeri, data yang bersumber dari instansi atau lembaga terkait, serta laporan masyarakat. “Program kerja KPU Kabupaten Magelang untuk pemutakhiran daftar pemilih berkelanjutan ini diantaranya melaksanakan Rapat Koordinasi Internal Evaluasi dan Strategi PDPB 2026, Evaluasi terhadap capaian Triwulan II Tahun 2026 sebagai dasar penyusunan strategi “Menata Akurasi, Menguatkan Demokrasi 2026”, serta Rapat Penyusunan Kegiatan PDPB setiap minggunya dalam Rapat Pleno Mingguan’, ucapnya. Ketua Bawaslu Kabupaten Magelang M. Habib Sholeh, dalam sesi tanggapan dan masukan menyampaikan apresiasinya kepada KPU Kabupaten Magelang yang telah bekerja keras melaksanakan pemutakhiran Daftar Pemilih dalam rangka mewujudkan data pemilih akurat, valid, mutakhir, dan komprehensif.(***/RED) ....
KPU Magelang Lakukan Kunjungan Monitoring Pemutakhiran Data Parpol
KOTA MUNGKID - KPU Kabupaten Magelang melakukan kunjungan monitoring dan asistensi pemutakhiran data partai politik secara berkelanjutan kepada 18 partai politik peserta Pemilu 2024 tingkat Kabupaten Magelang, mulai Kamis (24/9/2026) hingga akhir Oktober 2026 mendatang.Tahap pertama, KPU Magelang mengunjungi Kantor DPC PDI Perjuangan dan DPC PKB. Ketua KPU Kabupaten Magelang, Ahmad Rofik mengatakan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran KPU RI Nomor 878/PL.01.1-SD/06/2026 perihal tindak lanjut pelaksanaan pemutakhiran data partai politik secara berkelanjutan melalui Aplikasi Data Partai Politik (Sipol) KPU. "Kami diminta untuk berkoordinasi dengan partai politik terkait publikasi hasil verifikasi pemutakhiran data partai politik secara berkelanjutan dapat diakses melalui Sipol. Jadi ini merupakan tindak lanjut dari SE KPU RI Nomor 878/PL.01.1-SD/06/2026," kata Rofik. Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Kabupaten Magelang, Nurul Ekawati, turut menjelaskan pada kunjungan tahap pertama ke Kantor DPC PDI Perjuangan, rombongan KPU diterima jajaran Sekretariat DPC PDIP dan admin Sipol, Ahmad Rofiq dan pengurus DPC, R. Sumandah. "Tahap pertama ini, kami mengunjungi kantor DPC PDI Perjuangan dan DPC PKB. Untuk minggu depan kami ke PKS dan Golkar. Dijadwalkan setiap minggu ada dua parpol yang kami kunjungi. Target akhir Oktober, kegiatan monitoring dan asistensi terkait pemutakhiran data parpol secara berkelanjutan ini selesai kami lakukan," ungkapnya. Pada pekan terakhir September ini, dijadwalkan KPU akan mengunjungi Kantor DPD PKS dan DPD II Partai Golkar. Sementara di awal Oktober, giliran DPC Partai Gerindra. Melalui kegiatan monitoring ini, KPU Kabupaten Magelang berharap seluruh partai politik di Kabupaten Magelang dapat melakukan pemutakhiran data secara tertib, akurat, dan berkelanjutan melalui Sistem Informasi Partai Politik Sipol. (*/RED) ....
Publikasi
Opini
Oleh : Yohanes Bagyo Harsono, ST Ketua Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kabupaten Magelang PESTA demokrasi di Indonesia berlangsung setiap lima tahun sekali. Terlepas pro dan kontra, dari setiap pelaksanaan pemilu maupun pemilihan itu, selalu saja menyajikan cerita-cerita menarik dan berbeda. Tidak jarang, dari cerita-cerita itu ada sesuatu yang bisa diambil dan menjadi bahan evaluasi bagi jajaran penyelenggara, agar pelaksanaannya kedepannya bisa lebih baik lagi. Tulisan ini ingin mengupas tentang pemilih disabilitas. Kenapa memilih tema ini ?Jawabannya agar pemilih disabilitas ini bisa menggunakan hak pilihnya secara maksimal setiap pelaksanaan pemilu/pemilihan. Sebagai bahan refleksi, adalah saat pelaksanaan Pilkada 2024 di Kabupaten Magelang. Dari data KPU Kabupaten Magelang, jumlah pemilih disabilitas diwilayah ini pada Pilkada kemarin ada 6.064 pemilih dari 1.014.525 pemilih yang masuk DPT atau 0,6 %. Dari 6.064 pemilih disabilitas itu, terdiri dari disabilitas sensorik rungu 357 atau 6 %, disabilitas sensor wicara 847 atau 14 %, disabilitas mental ada 1.007 atau 17 %, disabilitas fisik 2.830 atau 47 %, disabilitas sensorik netral 634 atau 634 atau 10 %, dan disabilitas intelektual ada 389 atau 6 %. Dari jumlah itu, kehadiran mereka di TPS pada Pilkada 2024 mencapai 1.744 orang atau hanya sekitar 28,8 %. Meski sedikit, namun pemilih disabilitas selalu menyumbang kenaikan angka partisipasi setiap pelaksanaan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilkada) diwilayah ini. Pada pelaksanaan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Magelang Tahun 2008, angka partisipasinya mencapai 72,5 %, Tahun 2013 menurun menjadi 71,2 %, Tahun 2018 naik lagi menjadi 79,5 % dan di Tahun 2024 kemarin, naik lagi menjadi 80,6 %; dari jumlah ini, 28,8 % nya berasal dari pemilih disabilitas. Tentu banyak yang bertanya, dari 6.064 pemilih disabilitas dari total DPT Pilkada Kabupaten Magelang Tahun 2024 yang mencapai 1.014.525 pemilih, kenapa baru 28,8 % yang menggunakan hak pilihnya? Inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini. Dalam sebuah pertemuan dengan kelompok-kelompok pemilih disabilitas paska pelaksanaan Pilkada 2024 di Aula Kecamatan Mertoyudan dan beberapa pertemuan bersama komunitas penyandang disabilitas, ada banyak fenomena muncul dan bisa menjadi faktor penyebabnya. Diantaranya, banyak keluarga yang “menyembunyikan” keberadaan mereka, sehingga mereka tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Ini terjadi karena masih adanya stigma sebagian kecil masyarakat, yang menganggap hak pilih mereka kecil pengaruhnya. Tidak sedikit dari keluarga-keluarga yang untuk menjaga “image” keluarga, beberapa “menyembunyikan” mereka terutama dengan tidak melibatkan mereka dalam setiap proses kepemiluan. Pada akhirnya, banyak dari mereka yang tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) baik di Pemilu maupun Pilkada. Ini terjadi terutama dialami penyandang disabilitas mental. Hal lainnya, ada kesalahan entah disengaja atau tidak oleh beberapa penyelenggara, tidak memasukkan mereka sebagai pemilih disabilitas, terutama saat tahapan pantarlih. Ini terjadi terutama pada pemilih disabilitas fisik (memakai kaki sambung/penyakit kulit) atau disabilitas netra (bisa melihat tapi kabur/buram), dimana secara fisik dan intelektual mereka normal. Dari latar belakang itu, mereka dimasukkan sebagai pemilih normal. Padahal data Badan Kesbangpol dan Dinas Sosial, mencatat mereka adalah penyandang disabilitas. Sebab lainnya, beberapa diantaranya mereka mendirikan atau membuat komunitas kelompok-kelompok sendiri. Ini terjadi biasanya karena adanya perbedaan prinsip dan tidak sejalan lagi dengan pengurus sebelumnya. Akibatnya, beberapa kelompok mereka tidak masuk dalam data baik di KPU, Badan Kesbangpol maupun Dinas Sosial. Pada akhirnya mereka tidak tersentuh kegiatan sosialisasi tentang kepemiluan. Ini banyak dialami penyandang disabilitas fisik, sensorik rungu, wicara serta netra Hal lainnya, karena minim akses saat di TPS. Ini terjadi karena beberapa TPS belum menyediakan akses untuk mereka. Kenapa ini terjadi? Karena pemilih disabilitas tidak “dimasukkan” dalam DPT, padahal kenyataan dilapangan, mereka ada. Akibatnya mereka enggan ke TPS. Disisi lain, karena tidak ada transportasi atau orang yang mengantar mereka ke TPS. Beberapa faktor inilah yang muncul saat evaluasi paska Pilkada 2024 kemarin, bersama komunitas dan kelompok-kelompok disabilitas diwilayah ini, yang diadakan KPU Kabupaten Magelang. Salah satu tujuan dari evaluasi ini, tentu ada masukan dan harapan dari mereka tentang penyelenggaraan Pemilu dan Pemilihan kedepan, agar angka partisipasi dari penyandang disabilitas bisa meningkat. Beberapa solusi agar angka partisipasi mereka meningkat, diantaranya tentu sosialisasi kepada kelompok mereka harus dimasifkan. Tidak hanya menyasar pada satu atau dua kelompok saja, tapi semua kelompak yang ada dimereka. Sosialisasi juga tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Hal lainnya, tentu menyadarkan masyarakat yang memiliki anggapan, jika suara anggota keluarga difabel tidak penting adalah tidak benar. Disisi lain, juga disampaikan bahwa satu suara dari mereka bisa menentukan nasib bangsa dan negara kedepan. Solusi lain, adalah meminta petugas pantarlih dan penyelenggara di tingkat desa, untuk lebih teliti lagi dalam mendata mereka. Dengan begitu, data kelompok difabel jadi lebih tepat dan akurat. Harapannya tidak ada lagi yang tercecer dari kelompok difabel. Jika datanya sudah akurat, tentu dalam membuat atau menentukan lokasi TPS juga bisa lebih tepat lagi. Akses di TPS nya juga bisa lebih “ramah” terhadap mereka. Jika memungkinkan, ada anggota penyelenggara atau keluarga difabel yang ditunjuk, untuk menjemput dan mengantar mereka ke TPS dan kembali ke rumah. Beberapa solusi itu, semoga kedepan tidak ada lagi pemilih dari kelompok disabilitas yang tercecer tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Bagaimana pun, satu suara sangat menentukan nasib bangsa dan negara kedepan. Mari kita jaga dan lindungi hak pilih mereka. (***)
Meneladani Pesan Dari Para Pahlawan Oleh : Yohanes Bagyo Harsono, ST Kadiv Sosdiklih, Parmas dan SDM KPU Kabupaten Magelang MENARIK apa yang dipesankan pahlawan nasional, Dr Cipto Mangunkusumo, yang dibacakan saat upacara memperingati Hari Pahlawan 10 November 2025, Senin tadi pagi. Beliau menyampaikan “Perlawanan yang tidak lahir dari pikiran merdeka, hanyalah letupan emosi, bukan perjuangan!” Pesan ini sangat relevan untuk kita jadikan pedoman langkah kita kedepan, agar tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang sebenarnya bukan perjuangan, tapi upaya pihak tertentu mengatasnamakan perjuangan rakyat. Padahal perjuangan yang dimaksud adalah untuk kepentingan segelintir orang. Dimasa kemerdekaan ini, banyak hal yang sering membuat kita bingung. Terkadang kita mudah terpengaruh dan bahkan ikut serta dalam sebuah acara yang dibungkus dengan kata-kata untuk perjuangan rakyat. Kita sering tidak berpikir jauh. Apakah itu benar untuk perjuangan rakyat? Ataukah untuk kepentingan-kepentingan segelintir kelompok saja? Hal senada, pesan lagi dari salah satu pahlawan nasional yang lain. Ida Anak Agung Gde Agung. Pesannya juga sangat relevan dengan masa sekarang ini. “Politik bukan alat kuasa, tetapi alat untuk menjaga martabat bangsa”. Dimasa kini, politik terkadang dipakai oleh para elit negeri ini untuk memperjuangkan dan mengamankan kepentingan golongan dan kelompoknya. Tidak untuk bangsa. Hanya saja, dengan politik itu, mereka mengatasnamakan rakyat. Hanya rakyat yang dimaksud adalah kelompok-kelompoknya saja. Para elit politik dengan cerdik dan cerdas, mengobok-obak emosi rakyat. Kata-kata manis, sering membuat rakyat terlena. Kita sering kita tidak menelaah jauh. Tidak berpikir jauh dan meneliti sebelum ikut dalam arus mengatasnamakan “perjuangan” itu. Apa yang dipesankan Dr Cipto Mangunkusumo dan Ida Anak Agung Gde Agung, patut untuk kita renungkan bersama. Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf dalam sambutan saat upacara memperingati Hari Pahlawan menyampaikan, ada tiga hal yang dapat diteladani dari para pahlawan bangsa. Pertama tentang kesabaran. Dimana mereka sabar menempuh ilmu dan menyusun strategi, sabar menunggu momentum dan sabar membangun kesabaran ditengah keterbatasan. Kedua tentang semangat mengutamakan kepentingan bangsa diatas segalanya. Dimana para pahlawan tidak berebut jabatan, tidak menuntut balasan, tidak mengincar apa yang ditinggalkan penjajah. Tapi mereka justru kembali ke rakyat, mengajar, membangun, menanam dan melanjutkan pengabdian. Dan yang ketiga, adalah pandangan jauh kedepan. Para pahlawan berjuang untuk generasi yang akan datang, untuk kemakmuran bangsa yang mereka cintai Dan menjadikan perjuangannya sebagai ibadah. Itulah kekuatan yang mereka tinggalkan untuk kita. Kini saatnya, cita-cita para pahlawan itu kita teruskan. Tidak perlu dengan bambu runcing, melainkan dengan ilmu, empati dan pengabdian. Hanya saja, semangat mereka tetap sama, yakni membela yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tetinggal dari arus kemajuan. (*)
HARI PAHLAWAN Saatnya Meneruskan Cita-cita Pahlawan **)Oleh Yohanes Bagyo Harsono, Anggota KPU Kabupaten Magelang Divisi Sosdiklih Parmas dan SDM SIAPA yang tidak tahu Pangeran Diponegoro? Tentu semua orang terutama Warga Negara Indonesia (WNI), tahu siapa dia. Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan nasional. Ia adalah seorang pangeran di Jawa yang menentang pemerintahan Kolonial Belanda. Putra sulung Hamengku Buwana III ini, memegang peranan penting dalam perang di Jawa Tahun 1825 - 1830. Setelah kalah dan tertangkap, ia diasingkan ke Makasar, dan meninggal di sana pada usia 69 tahun. Tujuan perangnya saat itu adalah melawan Kolonial Belanda. Di era saat ini, kita tetap diharuskan “berperang’. Namun tentu berbeda dengan perangnya dengan saat Pangeran Diponegoro. “Perang” kita saat ini, tidak melawan Kolonial Belanda atau penjajah, dan bertujuan agar Bangsa Indonesia merdeka, tapi “perang” yang lain. Tujuan, target, sasaran dan cara berperang yang kita lakukan saat ini, sudah jauh berbeda. Dahulu para pahlawan berperang dan berjuang tidak dengan banyak bicara, namun dengan keberanian dan merelakan darahnya tertumpah, bahkan meski harus kehilangan nyawanya. Saat ini, tugas kita tidak lagi mengangkat bambu runcing dan senjata api, tetapi mengangkat ilmu, kerja keras, dan kejujuran/integritas. Yang pasti semangat para pahlawa dan kita saat ini, harus tetap sama. Yakni Bangsa Indonesia harus berdiri tegak. Indonesia tidak boleh kalah dengan negara lain. Belum lama ini, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 2025 kemarin. Dalam sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir mengatakan, generasi muda harus terus berjuang dan berani bermimpi besar serta pantang menyerah, dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Pemuda bukan sekadar pelengkap sejarah, tetapi penentu arah bangsa ke depan. Kita butuh pemuda yang patriotik, gigih dan empati, yang mencintai tanah air dengan tindakan nyata dan tetap berdiri ketika badai datang. Dalam sambutan yang dibacakan dalam upacara bendera di sekolah-sekolah dan instansi pemerintah itu, ia berkeinginan agar generasi muda tetap semangat mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. Semangat muda, harus disalurkan dan diwadahi melalui saluran-saluran yang ada. Di sisi lain, sebagai rakyat Indonesia, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengisi dan meneruskan cita-cita para pahlawan. Salah satunya dengan ikut terlibat dalam pembangunan di negara kita ini. Keterlibatan itu, tentu menyesuaikan kemampuan dan kompetensi kita masing-masing. Bagi pelajar bisa dengan belajar rajin. Bagi guru, dengan mengajar dengan baik sesuai tugas, pokok dan fungsinya sebagai tenaga pendidik. Sebagai dokter, tentu memberikan pelayanan kesehatan dan pengobatan yang baik, demikian seterusnya. Semangat pahlawan agar Indonesia terus berdiri tegak, harus kita lestarikan dan rawat terus-menerus. Jangan ada bangsa atau pihak lain yang mencoba merongrong bangsa kita. Jika sampai terjadi, sudah menjadi kewajiban kita untuk bersatu melakukan perlawanan. Tidak harus mengotong senjata, tapi dengan ilmu dan kecakapan yang kita miliki. Mari kita isi kemerdekaan sesuai profesi yang kita miliki. Selamat hari pahlawan. MERDEKA!!
**) Oleh Siti Nurhayati, Anggota KPU;Ketua Divisi Perencanaan Data dan Informasi KPU Kabupten Magelang Program Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Tahun 2025 yang kini tengah dilaksanakan KPU Kabupaten Magelang tidak lepas dari peran operator Sidalih yang bekerja tanpa kenal lelah. Mereka adalah garda terdepan yang memastikan daftar pemilih tetap bersih, akurat, dan mutakhir. Operator Sidalih merupakan ujung tombak dalam memastikan PDPB berjalan dengan baik. Ketelitian dan komitmen mereka patut diapresiasi, karena dari kerja-kerja teknis hingga pelayanan langsung ke masyarakat inilah lahir data pemilih yang bersih dan akurat demi suksesnya penyelenggaraan pemilu. Keuletan, kesabaran, dan profesionalitas para operator menjadi kunci suksesnya PDPB. Mereka bekerja senyap, namun hasilnya berdampak besar bagi tegaknya demokrasi di Indonesia. Melalui tangan-tangan operator Sidalih tangguh inilah, data pemilih yang valid dapat terjaga demi pemilu yang jujur, adil, dan berkualitas Setiap hari operator harus berhadapan dengan ribuan data pemilih untuk diperiksa satu per satu, disinkronkan dengan data kependudukan, hingga memastikan tidak ada pemilih ganda maupun pemilih Tidak Memenuhi Syarat (TMS) yang masih tercatat. Tak hanya itu, mereka juga menindaklanjuti masukan dan saran perbaikan dari Bawaslu Kabupaten Magelang, baik terkait pemilih TMS maupun pemilih Memenuhi Syarat (MS), sehingga kualitas data semakin terjamin validitasnya. Peran mereka tidak sebatas mengelola dan membersihkan data. Operator juga turut aktif menjadi bagian dari Tim PDPB KPU Magelang dalam kegiatan sosialisasi ke masyarakat. Mereka menerima laporan langsung baik melalui Layanan Helpdesk PDPB maupun Layanan PDPB on the spot, yang memudahkan masyarakat menyampaikan masukan data pemilih. Dengan demikian, operator bukan hanya bekerja di balik layar, tetapi juga terjun langsung melayani masyarakat..**)
*) Oleh: Yohanes Bagyo Harsono,ST Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kabupaten Magelang MINGGU, 17 Agustus 2025 besok, Bangsa Indonesia akan tepat berusia 80 tahun. Saat itu, seluruh rakyat akan memperingati hari dimana para pendiri bangsa menyatakan sebagai hari Kemerdekaan Indonesia. Hari yang bersejarah dan selalu diperingati oleh segenap anak bangsa di Negara Kesatuan rebupilik Indonesia (NKRI). Untuk diketahui, Presiden RI Prabowo Subianto, Rabu (23/7/2025) kemarin, telah menetapkan logo dan tema HUT ke-80 Republik Indonesia, yakni 'Bersatu, Berdaulat. Rakyat sejahtera, Indonesia Maju'. Prabowo mengatakan tema ini selaras dengan visi bangsa. “Tema ini dipilih, karena kita ingin selalu menjadi negara yang bersatu, Bhinneka Tunggal Ika ini adalah dorongan kita, hasrat kita,” katanya, dalam pidato peluncuran kemarin. Tema ini juga dipilih karena mencerminkan semangat Bangsa Indonesia untuk bersatu padu dalam mengusung kesepahaman sebagai satu bangsa, menjembatani harapan satu sama lain, dan bergerak maju bersama dalam menyongsong kemajuan bangsa. Tema ini juga menjadi identitas utama dalam seluruh rangkaian kegiatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, yang kemeriahannya diharapkan dapat dirasakan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia sebagai simbol semangat kebangsaan yang menyatukan, keyakinan akan masa depan yang lebih baik, serta rasa bangga menjadi Bangsa Indonesia. Sedang logo HUT ke-80 Republik Indonesia tahun ini berangkat dari semangat “Dimiliki Bersama, Dirayakan Bersama”, yang mengangkat kebanggaan kolektif sebagai energi penggerak bagi bangsa yang berdaulat, sejahtera, dan maju bersama, sebagai cerminan arah perjalanan Indonesia: dimulai dari kekuatan persatuan, diwujudkan dalam kesejahteraan rakyat, dan diarahkan menuju masa depan yang maju Pada Tahun 2024 kemarin, kita baru saja menyelesaikan pelaksanakan pesta demokrasi dengan Pemilu dan Pemilihan Kepada Daerah. Peringatan HUT ke-80 Rebuplik Indonesia ini, diharapkan menjadi momentum kita bersama untuk kembali bersama, bersatu sebagai rakyat dalam wadah NKRI. Semua tentu menyadari, saat Pemilu dan Pilkada kemarin, kita memiliki pandangan, keyakinan, dan pilihan berbeda-beda dalam mendukung calon Presiden/Wakil Presiden, Wakil Rakyat di DPD, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten serta Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota. Kini saatnya, semua perbedaan saat Pemilu dan Pilkada kemarin, kita anggap selesai. Saatnya kita kembali songsong pemerintahan baru dengan pemimpin baru. Kita satukan tekat, untuk menyukseskan pemerintahan hasil proses demokrasi yang kita laksanakan setiap lima tahun sekali sesuai bunyi UUD 1945 pasal 22 E. Mari kita isi kemerdekaan Indonesia dengan apa yang kita bisa. Kita bantu pemerintahan dengan segenap akal, budi dan kemampuan yang kita miliki. Sulit memang terutama bagi yang kemarin kalah, namun jangan biarkan pikiran-pikiran kita untuk terus mengingat ‘kekalahan’ itu. Saatnya, kita iklaskan kekalahan itu, dan mulai dengan semangat baru untuk mendukung pemerintahan. Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan Bangsa Indonesia yang mengajarkan kita untuk berbeda-beda, namun tetap satu ditengah perbedaan dalam keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan bahasa. Semboyan ini, menyatukan seluruh masyarakat Indonesia yang majemuk dalam satu kesatuan bangsa. Karena itu, mari kita saling menghargai, toleransi, dan gotong royong dalam segala perbedaan. Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari refleksi kita untuk terus melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa tersebut. Pemerintah menegaskan komitmennya menjadikan peringatan ini sebagai ruang kolaborasi antara negara dan rakyat, tanpa mengurangi nilai-nilai sakral perjuangan kemerdekaan. Momen peringatan HUT ke-80 RI menjadi momen kita untuk mengisi kemerdekaan mulai dari lingkungan dimana kita berada dan dimana kita bekerja. Kemerdekaan harus dimanfaatkan untuk terus membangun bangsa, dengan meningkatkan kualitas sumber daya yang kita miliki untuk mengatasi berbagai tantangan bersama. Hari Kemerdekaan harus menjadi pemicu semangat nasionalisme dan kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia. (*)